Kamis, 06 November 2008

OPINI PUBLIK 1

"Sindrom Adi" di Simpang Jalan

Siapa yang menyangka Pemilihan Presiden Amerika Serikat (Pilpres AS) membawa konsekuensi yang sangat prinsipil bagi eksistensi AS. Hal itu menentukan konstelasi dunia pada dekade mendatang. Fakta di Pilpres AS menunjukkan, peristiwa itu bukan hanya peristiwa politik domestik, pergantian kekuasaan, dan perebutan Republik vs Demokrat.
Itu juga bukan hanya persaingan John McCain dengan Barack Obama. Itu bukan pula sekadar "perang bawah tanah" kulit hitam vs kulit putih. Pun bukan cuma poolingtainment, debatainment atau telecampaign. Terlepas dari apakah McCain atau Obama yang menang, konsekuensi prinsipil dari Pilpres AS sudah disemai Presiden George W Bush ketika membawa AS "berlebihan adi" (daya), "over super" (power).
Dalam "perang suci" menyerang Afghanistan, Irak, mengecap axis of evil untuk Korea Utara, Iran, dan sebagainya, pasukan koalisi memosisikan AS sebagai adikomandan dalam perang dan antiterorisme. Semua reaksi Bush dan pembisik ekstrem kanan yang konon membawa suara Tuhan justru menyeret AS sehingga dicemooh. Dunia bertanya, di mana wisdom negeri semaju AS, kok hantam kromo? Bahkan, komunitas Kristen Khaldean di Irak Utara juga dibom.
"Perang suci" kepada siapa tentara AS itu? Dunia dan AS terperangah ketika peristiwa 9 September meluluhlantakkan Menara Kembar Pusat Bisnis AS dan Pentagon. AS seperti kecolongan oleh mereka yang nekat menentangnya. Mestinya AS mengoreksi diri bahwa tak ada serangan teror tanpa serangan AS lebih dulu terutama konflik di negeri-negeri Arab.
Namun, peristiwa itu sudah lewat dan tak mungkin ditarik mundur. Ada kekecewaan dunia tentang negeri "adi" seperti AS. Meski sangat buruk reputasi AS di bawah Bush, ada blessing in disguise, yakni peluang membawa AS berubah. Berkat "jasa" Bush menjerumuskan AS, maka AS justru sampai pada era baru.
Petualangan model koboi telah menarik AS ke situasi berdarah-darah dalam pengeluaran untuk operasi militer. Veteran perang dan keluarganya mengalami trauma yang berdampak pada kesehatan mental rakyat AS.
Beruntung, Obama mengambil posisi berseberangan dengan Bush sehingga menjadi pilihan baru rakyat AS. Apakah AS tetap ngotot menjadi negeri adidaya sebagai satu-satunya "polisi dunia" yang berhak menginvasi siapa saja yang mengancam AS?
McCain berkata, ia bukan Bush. Tapi, benang merah pandangannya dalam debat kampanyenya lebih memilih AS sebagai adidaya satu-satunya dan melanjutkan perang suci serta "mengimani" bahwa AS masih super di jajaran bangsa-bangsa dunia. Konsekuensi dengan menangnya McCain ialah peran AS tetap dominan dalam semua lini: PBB, hubungan antarnegara, lembaga-lembaga keuangan internasional, megakorporasi global yang mencengkeram hingga pelosok negeri miskin.
AS yang kulit putih, religius kanan Protestan, dan tanpa butuh dialog dengan dunia tapi menentukan dunia ini mau ke mana? Itulah konsekuensi jika McCain menang. Tapi, apakah hal itu realistis? Dana perang makin berat, ekonomi porak poranda, dan citra hancur. Tapi, siapa tahu McCain juga berubah.
Obama lebih beruntung dibanding McCain. Dengan mengambil posisi berseberangan dengan Bush, situasi AS yang memburuk justru menjadi peluang sebagai titik pejal, titik hentak, titik lompatan perubahan AS, dan peluang Obama untuk memberikan jalan baru.
Jika McCain tetap berjalan dengan keyakinannya mempertahankan AS sebagai adidaya satu-satunya, yang terbesar dan terhebat, Obama memilih jalan evaluasi tanpa merendahkan bangsanya sendiri.
Jika Obama menang, ia tak meneruskan perang dan mencari akar terorisme. Ia mengkaji ulang kapitalisme dan pasti memperbaiki citra AS yang babak belur. Meski Obama mungkin memperoleh tekanan untuk tidak menjadikan AS lembek, paling tidak Obama memilih jalan baru bagi AS.
Obama ingin mengeluarkan AS dari "sindrom adi", kulit putih, Protestan, dengan membagi sumber daya yang dimiliki AS menjadi multidaya. Ia sendiri dari kalangan hitam, black church, memiliki histori dengan Afrika, Asia, dan dekat dengan Katolik serta Islam. Obama membagi sumber daya AS menjadi jalan multidaya, menggunakan banyak kekuatan yang dipunyai AS tanpa harus adipongah.
AS yang maju dan kaya bersedia duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan bangsa lain. Kapitalisme dan liberalisme dicarikan otokritiknya sendiri. Jadi, tak mengherankan kalau Obama dituduh McCain sosialis.
Upaya "membagi-bagi" AS dalam banyak kekuatan bagai gayung bersambut dalam diri Obama jika ia terpilih. Warga AS berkulit hitam tidak lagi menjadi warga negara kelas dua dengan stereotip budak Afrika dan bisanya menjadi petinju kelas berat. AS mulai melepaskan adimonopoli kulit putihnya dan mulai membuka banyak sumber dayanya dengan masuknya presiden kulit hitam.
Hal ini makin membuktikan bahwa AS tampaknya dihadapkan pada dua pilihan: adidaya, kulit putih, Protestan, kapitalisme atau multidaya, kulit berwarna, multiagama, multiimigran, dan kapitalisme yang dievaluasi. Mengapa tidak?
AS di puncak piramida tinggal hari-hari ini dengan kemungkinan besar piramida itu runtuh. Atau, AS rela mengubah piramidanya menjadi "gugus bukit barisan" dengan mengikhlaskan munculnya puncak-puncak piramida lain yang secara tidak langsung fondasinya saling menopang. Dari segi ras, memberi peluang kulit hitam (berwarna) menjadi presiden. Dari segi politik luar negeri, memberi kompensasi atas korban perang dengan memilih hidup rukun. Dari segi ekonomi, mengerem nafsu kapitalisme, mengurangi gaya hidup konsumtif-boros.
"Sedikit sosialis" yang mengerem laju pertumbuhan agar negara terbelakang mencicipi kemajuan dan tidak abadi menjadi koloni untuk diisap. Pilihan memang sulit karena seperti kata Obama, change we can believe in menusuk jantung adidaya, kapitalisme, kulit putih, ekstrem kanan, perang suci. Bayangkan, itu dibalik oleh Obama dengan multidaya, sedikit sosialis. Kenapa tidak, daripada bangkrut. Kulit berwarna, lebih realistis daripada fanatisme buta, hidup rukun dan rakyat makmur bukan kaya untuk CEO megakorporasi saja.
Bagi Indonesia sebagai negara majemuk, jalan Obama lebih klop. Harapannya, ada banyak hubungan RI-AS dalam chemistry yang sama. Meski Obama juga tak bisa melenggang sendirian, ia tetap membaca konstelasi hubungan RI-AS dan reaksi Kongres dan tim pemerintahannya kelak. Jadi, RI tak bisa senang dulu meski Obama "anak Menteng".
Tapi, jika McCain yang menang dan tetap menjadi Bush III, Indonesia tetap akan dilihat sejauh mendukung kepentingan AS. Partai Republik terkenal lebih memanjakan RI dibanding Partai Demokrat, tetapi tentu bukan tanpa alasan.
Kapitalisme dan modus "pertumbuhanisme" AS butuh koloni dan Indonesia lahan yang gemuk. Demokrat lebih bawel terhadap pelanggaran HAM, tapi lebih fair. Jika McCain menang berharap ia veteran yang ksatria melihat realitas politik, militer, ekonomi dan citra AS objektif dan ikhlas mengikuti jalan Obama.
Obama bisa kalah, tapi idenya harus terus hidup, ini kalau AS mau berubah. McCain harus mengadopsi. Bukankah McCain Republikan yang lebih liberal dan 'kurang ekstrem' sehingga para pembisik suara Tuhan tidak mempan, dan lebih meyakini apa yang nyata dari situasi AS. Pilihan ada di tangan rakyat AS

1 komentar:

PRIHANDONO mengatakan...

Boleh juga tulisannya. Analisa bagus, kajian oke. Bagaimana dengan Indonesia di 2009 ? N gitu aja deh